Aku Datang ke Pestamu, Din

langsung, isi surat!

Hari ini, dua Juni dua ribu dua puluh. Aku tak begitu mau berhubungan dengan angka, aku takut ingat. Akhirnya sibukku yang tak terlalu sibuk itu selesai. Jam sepuluh malam lewat dua puluhan. Padahal yang kutulis ya, angka, ya? Hanya tipu diri saja, tulisnya pakai aksara. Mendramatisasi lagi. // Nadin, (kok, namamu indah sekali ya?) padahal aku tak pernah dekat atau berpapas denganmu, barangkali melihatmu makan di restoran mana... tidak, tuh. Tapi namamu kedengaran akrab di dalam gaung tempurung tengkorakku yang agak tebal ini.

Oke, hei, Nadin? Aku sih berharap kamu baca ini, kamu baca aku. Aku.. mau ikut di kereta-keretamu, Din. Yang agak lambat saja, boleh? Soalnya aku takut kalau harus terseret di gerbong terakhir Kereta yang Melaju Terlalu Cepat, hihi. // Nadin, bisa jadi ini surat cinta. Aku bahkan tak begitu serap ucapmu saat suaramu berjalan dengan riang keluar dari kabel earphone-ku, tapi tautan antara alisku membentuk gunung kecil, mataku menutup dan berdansa dengan sesak dadaku yang tiba-tiba sekali. Loh, aku menangis? Iya. Aku menangis, nih. Aku teringat cowok yang kusuka di sekolahku. Super cheesy. Maaf ya, situasi jadi membuat ingin muntah. Dia indah, Nadin. Eh! Maaf, aku tiba-tiba tumpah ruah begini. Aku sudah terlalu sering curhat ke semesta, kayaknya sedikit lagi dia meledak kebosanan. Lagu Bertaut sedang berputar, Din. Aku betulan keingat cowok itu. (kok kayak lagi baca teenlit, ya?) Ia mengingatkanku akan clover, ia mengenalkanku dengan keberuntungan kecil-kecilan yang tak pernah kurasa kudapat, yang membuat pipiku bersemu. Sampai guruku sadar! Dia tiba-tiba tanya, di tengah konversasi dengan massal, ih, aku kaget bukan kepalang. Aduh aduh! Maaf ya, aku harus berhenti. Tapi aku betulan ingin melebur dengan puisi malam ini. Jam sepuluh hari ini, aku diam-diam bersembunyi dari mimpi malamku. Aku mau buat mimpi sendiri saja, ah! Aku mau melamun lagi. Hobiku sudah teramat usang di pojok otakku. Hidupku terlalu cepat untuk kelambatan henti ini. Corona this, corona that. Aku rindu semua orang-orangku. Mau peluk. Malu.

Ih, aku lagi berpuisi ya?

...................................................................................................................................................................

akhir surat!

Nadin, makasih ya, aku jadi bisa berbahasa khas alien lagi.
Yang buat orang bingung aku lagi ngomong apa.
Selamat Ulang Tahunmu luar biasa menggema di amigdala.
Sebenarnya aku lupa, sih amigdala artinya apa. Tapi aku suka saja.

Makasih, Nadin. Aku mau baca ketikanku ini, karena aku non-stop dari tadi.
Selamat Ulang Tahun, gema yang cantik.


Mendarah akan jadi yang terakhir malam ini.
Aku suka sekali.
Benar, Din,
Dia memang terlampau rahasia.
Sorak Sorai kusambung esok, ya?
Aku takut mama suruh aku untuk tidur lagi.


actual end :(


Fairfarren, Merah.

Comments

Popular Posts